Di era media sosial seperti sekarang, banyak anak muda yang tanpa sadar sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Saat melihat teman yang sudah wisuda, memiliki usaha sendiri, mendapatkan pekerjaan impian, atau terlihat selalu bahagia di media sosial, muncul perasaan bahwa diri sendiri belum cukup baik. Pikiran seperti “Kenapa aku belum seperti mereka?” atau “Apa aku kurang hebat?” sering kali muncul dan membuat seseorang merasa insecure. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan perjuangan yang mereka jalani.
Insecure sebenarnya merupakan perasaan yang wajar dialami oleh siapa saja. Perasaan ini muncul ketika seseorang merasa kurang atau tidak sebaik orang lain. Namun, masalah akan muncul ketika rasa insecure tersebut membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri dan terus meragukan kemampuannya sendiri. Akibatnya, banyak orang menjadi takut mencoba hal baru, takut gagal, bahkan takut menunjukkan potensi yang sebenarnya mereka miliki. Padahal setiap manusia memiliki kelebihan, kekurangan, serta jalan hidup yang berbeda-beda.
Selain insecure, Gen Z juga sering dihadapkan dengan overthinking. Pikiran yang terus berputar mengenai masa lalu, keadaan saat ini, atau masa depan sering kali membuat seseorang merasa lelah secara mental. Hal-hal kecil yang sebenarnya sederhana dapat berubah menjadi sumber kecemasan karena terlalu banyak dipikirkan. Belum terjadi apa-apa, tetapi pikiran sudah membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang membuat hati semakin gelisah. Pada akhirnya, energi habis bukan karena masalah yang dihadapi, melainkan karena terlalu banyak memikirkan hal yang belum tentu terjadi.
Meski terasa tidak menyenangkan, insecure dan overthinking sebenarnya bisa menjadi titik awal untuk bertumbuh secara spiritual. Perasaan-perasaan tersebut dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu dalam diri yang perlu diperhatikan. Mungkin kita terlalu bergantung pada penilaian orang lain, terlalu keras terhadap diri sendiri, atau terlalu jauh dari ketenangan yang sebenarnya bisa ditemukan melalui hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan. Ketika seseorang mulai menyadari hal ini, ia akan belajar untuk lebih mengenal dirinya dan memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh hatinya.
Salah satu langkah penting dalam pertumbuhan spiritual adalah belajar menerima diri sendiri. Menerima diri bukan berarti pasrah dan berhenti berkembang, melainkan memahami bahwa setiap manusia memiliki nilai dan keunikan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kita tidak harus menjadi sempurna untuk dianggap berharga. Kita juga tidak harus selalu berhasil untuk mendapatkan penghargaan. Nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh jumlah pengikut di media sosial, pencapaian akademik, atau pengakuan dari orang lain, melainkan oleh bagaimana ia menghargai dirinya sebagai ciptaan Tuhan.
Cara lain untuk mengurangi rasa insecure adalah dengan membiasakan diri bersyukur. Sering kali kita terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki sehingga lupa melihat berbagai nikmat yang sudah ada dalam hidup. Padahal, masih diberi kesehatan, kesempatan belajar, keluarga yang mendukung, dan teman-teman yang baik merupakan anugerah yang patut disyukuri. Ketika rasa syukur tumbuh, hati akan lebih tenang dan tidak mudah merasa kurang dibandingkan orang lain.
Banyak anak muda juga merasa tertinggal karena melihat keberhasilan orang lain. Mereka menganggap bahwa kesuksesan harus diraih pada usia tertentu. Padahal kenyataannya, setiap orang memiliki waktu dan proses yang berbeda. Ada yang menemukan jalan suksesnya lebih cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Hal itu bukan berarti seseorang gagal, melainkan sedang menjalani proses yang memang berbeda. Kehidupan bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling cepat, tetapi perjalanan untuk menjadi pribadi yang terus berkembang.
Ketika rasa cemas dan berbagai pikiran negatif datang, salah satu cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Melalui doa, ibadah, refleksi diri, dan berbagai aktivitas spiritual lainnya, seseorang dapat menemukan ketenangan yang tidak selalu bisa diperoleh dari dunia luar. Hubungan yang baik dengan Tuhan membantu seseorang memahami bahwa tidak semua hal harus dikendalikan sendiri. Ada bagian yang perlu diusahakan, tetapi ada juga bagian yang perlu diserahkan dengan penuh kepercayaan.
Pada akhirnya, pertumbuhan spiritual bukan tentang menjadi manusia yang sempurna dalam waktu singkat. Pertumbuhan adalah proses panjang untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan tetap melangkah meskipun terkadang masih dipenuhi rasa takut dan keraguan. Jika hari ini masih merasa insecure atau overthinking, itu bukan berarti gagal. Bisa jadi, itu adalah bagian dari perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih dekat dengan Tuhan.
“Apa yang sedang kamu hadapi hari ini mungkin sedang mempersiapkanmu menjadi pribadi yang lebih kuat esok hari.”
by : Rida Urro’yan


Leave a Reply