Pernah nggak sih, awalnya cuma buka media sosial lima menit, tapi tiba-tiba satu jam hilang begitu aja? Awalnya cuma mau lihat story teman, eh malah jadi lihat orang lain liburan, ada yang sudah punya pencapaian keren, ada yang relationship goals, ada yang hidupnya kelihatan produktif banget. Setelah lihat semua itu, tiba-tiba muncul perasaan aneh: merasa tertinggal, minder, cemas, bahkan jadi nggak puas sama hidup sendiri.Itulah yang sering disebut FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu rasa takut ketinggalan sesuatu dibanding orang lain. Dan ini adalah salah satu masalah paling dekat dengan kehidupan Gen Z sekarang Kita hidup di zaman di mana semua orang bisa menunjukkan versi terbaik hidup mereka di internet. Masalahnya, otak kita sering lupa kalau yang ditampilkan di media sosial itu biasanya cuma bagian bagusnya saja.

Orang-orang hanya memposting saat mereka bahagia, berhasil, healing, Jarang ada yang upload ketika lagi nangis sendirian, stres mikirin tugas atau pekerjaan hingga mikirin masa depan.Tapi karena setiap hari kita melihat “kesuksesan” orang lain terus-menerus, akhirnya muncul tekanan dalam diri sendiri. Kita mulai merasa hidup kita kurang menarik. Mulai membandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Bahkan kadang jadi bertanya, “Kenapa semua orang kelihatan lebih bahagia daripada aku?”Padahal belum tentu seperti itu kenyataannya.

FOMO membuat seseorang sulit menikmati hidupnya sendiri karena pikirannya terus sibuk melihat kehidupan orang lain. Lagi makan sibuk buka HP. Lagi kumpul sama teman malah fokus lihat story orang lain. Lagi istirahat pun otak tetap merasa harus update sesuatu supaya nggak dianggap ketinggalan lama-lama capek sendiri.Yang lebih bahaya, FOMO bukan cuma soal media sosial. Kadang FOMO bikin orang memaksakan diri demi validasi. Ikut nongkrong padahal nggak punya uang cukup. Membeli barang hanya supaya dianggap keren. Memaksakan diri terlihat produktif padahal mentalnya sudah lelah. Bahkan ada juga yang merasa gagal cuma karena melihat teman seusianya sudah lebih sukses.Padahal hidup itu bukan lomba cepat-cepatan.

Kesadaran penuh atau mindfulness menjadi salah satu cara penting untuk menghadapi FOMO. Mindfulness membantu seseorang kembali fokus pada kehidupannya sendiri, bukan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Ketika seseorang sadar penuh, ia mulai memahami bahwa setiap orang memiliki waktu, proses, dan jalan hidup yang berbeda .Salah satu cara sederhana untuk mengurangi FOMO adalah membatasi waktu bermain media sosial dan mulai menikmati aktivitas tanpa harus diposting. Misalnya menikmati makan tanpa memotret dulu, berjalan santai tanpa membuka notifikasi, atau menghabiskan waktu bersama keluarga tanpa sibuk mengecek handphone. Hal-hal kecil seperti ini membantu otak kembali menikmati kehidupan nyata.

One response to “FOMO Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri”

  1. Jungkook Avatar
    Jungkook

    Bagus banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *