Bagi mahasiswa zaman sekarang, membuka media sosial sering kali terasa seperti masuk ke dalam arena pacuan kuda. Baru saja bangun tidur, layar ponsel sudah menampilkan unggahan teman kuliah yang diterima magang di perusahaan multinasional, sibuk ikut organisasi, atau membagikan potret meja belajar penuh buku dengan takarir (caption): “No days off, keep grinding!”
Fenomena ini dikenal sebagai Hustle Culture sebuah budaya yang mendewakan kesibukan, di mana nilai diri seseorang hanya diukur dari seberapa produktif dirinya. Di era ini, istirahat sering kali dianggap sebagai sebuah dosa besar atau tanda kemalasan.
Akibatnya, mayoritas mahasiswa Gen Z terjebak dalam lingkaran setan bernama burnout (kelelahan mental dan fisik yang ekstrem) serta imposter syndrome (perasaan konstan bahwa diri kita tidak cukup pintar dan kesuksesan kita hanyalah faktor keberuntungan).
Lantas, bagaimana cara kita mengerem diri di tengah jalur cepat yang melelahkan ini? Jawabannya ada pada satu tindakan sederhana yang sering terlupakan: Rasa Syukur (Gratitude) sebagai bentuk Self-Care.
“Syukur bukan berarti kita sudah memiliki segalanya, tapi syukur adalah cara kita menyadari bahwa apa yang kita miliki saat ini sudah cukup untuk memulai langkah berikutnya.
Mengapa Rasa Syukur Adalah ‘Antidot’ Terbaik?
Banyak orang mengira bersyukur adalah sikap pasrah atau menyerah pada keadaan. “Ah, kalau bersyukur terus, nanti saya tidak berkembang dan kalah saing.” Anggapan ini keliru.
Dalam psikologi positif, rasa syukur adalah bentuk self-care yang sangat proaktif. Bersyukur tidak memintamu berhenti bermimpi atau berhenti belajar. Bersyukur bekerja dengan cara menggeser fokus pikiranmu.
Hustle culture memaksa otak kita untuk selalu melihat apa yang belum kita miliki (nilai yang kurang, sertifikat yang belum didapat, pencapaian orang lain). Sebaliknya, rasa syukur melatih otak kita untuk mengapresiasi apa yang sudah ada di depan mata. Ketika fokus kita bergeser, hormon stres (kortisol) di dalam tubuh akan menurun, digantikan oleh hormon kebahagiaan (dopamin).
Langkah Praktis Menerapkan Rasa Syukur di Tengah Padatnya Kuliah
Mengimplementasikan rasa syukur tidak butuh waktu berjam-jam. Di tengah jadwal kuliah dan tugas yang menumpuk, kamu bisa mencoba 3 langkah mudah ini:
1. Jurnal Syukur 3 Menit (3-Minute Gratitude Journal)
Sebelum tidur, alih-alih melakukan doomscrolling (keasyikan melihat berita buruk atau pencapaian orang lain di medsos), ambil sebuah buku catatan atau buka aplikasi notes di ponselmu. Tuliskan 3 hal kecil yang berjalan baik hari ini.
- Contoh: “Hari ini cuaca cerah,” “Tadi siang makan bakso yang enak banget,” atau “Tugas kelompok akhirnya selesai tepat waktu.” Hal-hal kecil ini adalah jangkar yang membuat pikiranmu tetap membumi.
2. Afirmasi Diri saat Imposter Syndrome Menyerang
Saat kamu mulai merasa minder dan berpikir, “Kenapa ya IPK-ku biasa saja, padahal aku sudah belajar mati-matian?”, gantilah kalimat self-talk negatif itu dengan rasa syukur atas usahamu. Katakan pada diri sendiri: “Aku bersyukur atas tubuh dan pikiran yang mau diajak bekerja sama hari ini. Aku menghargai setiap proses belajarku, meskipun hasilnya belum sempurna.”
3. Digital Detox dan Mengagumi Realitas
Sesekali, matikan notifikasi ponselmu selama beberapa jam di akhir pekan. Duduklah di teras, hirup udara segar, atau mengobrollah secara mendalam dengan teman tanpa gangguan layar. Sadari bahwa hidup yang nyata ada di sekelilingmu, bukan di dalam algoritma Instagram atau LinkedIn.
“Happiness is not having what you want, but wanting what you have.”
— Rabbi Hyman Schachtel (Kebahagiaan bukanlah memiliki apa yang kamu inginkan, melainkan menginginkan dan menghargai apa yang sudah kamu miliki).
Kesimpulan: Sempurna Itu Mustahil, Bahagia Itu Pilihan
Menjadi mahasiswa yang ambisius dan punya mimpi besar adalah hal yang sangat keren. Namun, membiarkan ambisi tersebut membakar habis kesehatan mentalmu adalah sebuah kerugian besar.
Ingatlah bahwa kesempurnaan yang dipajang orang lain di media sosial sering kali hanyalah potongan gambar yang sudah disaring (filtered). Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna.
Rasa syukur adalah rem darurat yang menjaga kita agar tidak “kecelakaan” di jalur cepat hustle culture. Jadi, berhentilah mengejar kesempurnaan, dan mulailah mengejar keseimbangan. Versi terbaik dari dirimu bukanlah versi yang paling sibuk, melainkan versi yang paling sehat secara mental dan mampu tersenyum menghargai setiap langkah kecil yang sudah diambil. Take a breath, you are doing just fine!


Leave a Reply